Kategori
  • Semua
  • Kegiatan
  • Workshop
  • Pelatihan
  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Penguatan / operasional organisasi
  • Event Futsal
Judul Artikel
  • Kesehatan
    09 February 2021 | Sumber:
    Webinar Kesehatan Mental untuk Tuli 2021
    Baca Lanjut

    Pada awal tahun 2021 hampir satu tahun masa pandemik COVID-19, persisnya bulan Januari 2021 ada kasus 10 orang Tuli meninggal dunia. 3 Kasus orang Tuli bunuh diri dengan gantung diri, (2 orang perempuan dan 1 orang laki laki). 2 orang Tuli meninggal dunia karena COVID-19 dan yang lain karena sakit. Tiga kasus bunuh diri dalam waktu 1 bulan termasuk tinggi dan menunjukkan bahwa pencegahan dan penanggulangan kesehatan mental untuk Tuli Indonesia kurang diperhatikan selama ini.

    Beberapa tahun yang lalu, Gerkatin baru mendapat pencerahan tentang kesehatan mental untuk Tuli yang sama sekali belum diperhatikan dalam dunia kesehatan di Indonesia. Tenaga ahli kesehatan Mental dari Inggris  bernama Herbert Klein pertama kali bertemu dengan Tuli dari Indonesia bernama Laura dan Surya waktu pertemuan WFD di Turki. Beliau baru tahu bahwa Indonesia itu sangat besar dan bervariasi budaya, Beliau berkomitmen untuk membantu Indonesia.

    Beliau juga beberapa kali ke Indonesia untuk sosialisasi kesehatan mental khusus Tuli, termasuk ke kementerian Kesehatan RI, menemui psikiater dan psikolog yang mau memahami kesehatan mental Tuli. Namun masih kurang perhatian dari Pemerintah Indonesia, belum ada klinik khusus kesehatan mental Tuli. Di Indonesia juga ada teori tentang sifat Anak Tuli yang suka marah marah, padahal sifat pemarah bukan disebabkan oleh sifat alamiah, tetapi disebabkan oleh lingkungan yang tidak memihak dan mengimplementasikan hak hak Tuli untuk berekspresi/ mengutarakan isi hati Tuli. Anak Tuli tidak diperbolehkan untuk berisyarat alamiah, tidak ada bahasa, tidak ada wadah ungkapan isi hati yang akses.

    Setelah adanya kasus bunuh diri yang baru  Gerkatin tergerak hati dan berusaha mencari solusi, minta bantuan ke Herbert yang siap membantu Indonesia dan juga minta bantuan kepada Disability Rights Fund.

    Bulan Februari 2021, dengan bantuan DRF diadakan Webinar kesehatan mental selama 5 hari berturut turut, hari terakhir ada diskusi santai dalam rangka hari valentine, hari kasih saying.  Tema Webinar adalah “Cintailah dirimu”.

    Hari pertama diisi oleh Bapak Herbert Klein, seorang Konsultan Kesehatan Mental Tuli independen asal Inggris dengan sub-tema “Pengantar tentang Kesehatan Mental untuk Tuli”.

    Hari kedua dipresentasikan oleh Ibu Victoria Nelson, Psikoterapis Tuli dari Inggris, sub-tema “Bagaimana kita menghadapi Kesehatan Mental kita?

    Hari ketiga: Ibu Adhesatya Ningsih Moodoeto, M.Psi., Psikolog Indonesia, sub-tema “Stress dan cara penanganannya”

    Hari keempat: Ibu Hannah Whalley, Perawat Kesehatan Mental, seorang Tuli berasal dari Inggris, sub-tema “Bagaimana cara merawat diri?””

    Hari kelima: Diskusi bebas

     

    Jumlah peserta yang hadir di webinar tersebut rata-rata 90 orang.

     

    Hasil Webinar cukup bermanfaat, dengan adanya pendirian tempat konsultasi untuk Tuli yaitu tempat  psikolog yang bisa berisyarat dan ada Juru bahasa isyarat yang siap bekerja membantu psikolog.

    Harapannya: makin banyak perhatian dari Pemerintah, Guru, orang tua anak Tuli agar lebih memperhatikan hak hak berekspresi  pada warga Tuli dan member fasilitas sarana dan prasarana yang akses untuk disabilitas Tuli.

     

  • Kegiatan
    23 February 2020 | Sumber:
    Dirgahayu GERKATIN ke 39 DPP bersama DPD & DPC GERKATIN dari Jawa Timur di Malang
    Baca Lanjut
  • Kegiatan
    29 September 2019 | Sumber: https://kominfo.go.id/content/detail/21825/pusbisindo-dan-gerkatin-gelar-pawai-peringati-hari-bahasa-isyarat-internasional/0/berita_satker
    Hari Bahasa Isyarat Internasional 2019
    Baca Lanjut

    Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) bekerja sama dengan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) menggelar acara pawai untuk memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) yang jatuh pada tanggal 23 September.

    “Pawai diadakan di berbagai daerah di Indonesia salah  satunya di Jakarta. Pelaksanaan  pawai untuk Jakarta dilaksanakan di Area Car Free Day yang dimulai depan Gedung Sarinah yang berakhir di GBK Senayan. Pawai  ini diikuti tidak hanya tuli dewasa, dengar dan juga orang tua dengan anak tuli,” ujar Ketua Panitia Acara Kesumo Yugo Prawiro saat pelepasan peserta pawai di Area Car Free Day, Sarinah, Jakarta, Minggu (29/09/2019).  

    Pengurus Pusbisindo Kesumo Yugo Prawiro mengatakan tema yang diangkat dalam acara ini adalah Hak Bahasa Isyarat untuk Semua. ”Dengan harapan bayi tuli hingga lansia tuli dapat menikmati kehidupan mereka dengan mengakses Bahasa Isyarat sehingga dengan semakin meluasnya penggunaan akses  Bahasa Isyarat agar informasi dan komunikasi bagi masyarkat dapat terpenuhi sejak lahir,” ungkap Kusumo saat membacakan sambutan Ketua Pusbisindo Laura Lesmana.

    Menurut Ketua Pusbisindo, dalam pemenuhan akses tersebut diperlukan kerjasama antara guru yang dapat mengajarkan Bahasa Isyarat, orang tua yang bisa berkomunikasi dengan anak Tuli menggunakan Bahasa Isyarat dalam keseharian.

    "Dalam dunia pendidikan, anak Tuli dapat menikmati bahasa lisan dan Bahasa Isyarat dengan pengajaran guru bisa berbahasa isyarat,” ujar Ketua Pusbisindo.

    Pusbisindo dan Gerkatin juga mengharapkan peranserta pemerintah melalui penyediaan anggaran dukungan pemenuhan hak atas informasi dan komunikasi bagi masyarakat Tuli dapat terpenuhi.

    Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memberikan dukungan fasilitasi Bahasa Isyarat dalam setiap siaran berita televisi, terutama di TVRI. Selain itu juga mengimbau stasiun televisi siaran nasional untuk menyediakan hal yang sama.

  • Kegiatan
    08 September 2019 | Sumber: http://blokbojonegoro.com/2019/09/08/hari-tuli-international-dan-bahasa-isyarat-international-dipusatkan-di-bojonegoro/
    Hari Tuli Nasional 2019 di Bojonegoro
    Baca Lanjut

    Peringatan Hari Tuli International dan Hari Bahasa Isyarat International tingkat provinsi Jawa Timur akan digelar di Alun-Alun Bojonegoro pada 29 September 2019. Perwakilan dari 16 kabupaten akan hadir memeriahkan acara ini.

    Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth mengatakan kegiatan ini bekerjasama dengan 16 Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) di Jawa Timur. Persiapan kegiatan sudah hampir final antara lain jalan sehat, pemecahan rekor MURI dan sejumlah lomba.

    "Kami harap semua dapat membantu mensukseskan acara ini," ujar Helmy.

    Ia juga berharap masyarakat mau belajar bahasa isyarat. Sebab melalui kegiatan ini, pihaknya ingin menunjukkan tuli bisa berjaya dan berkarya.

    Melalui peringatan Hari Tuli International dan Hari Bahasa Isyarat International ini bertujuan untuk menunjukkan masyarakat tuli bangga memiliki bahasa isyarat dan bangga memiliki posisi setara dengan masyarakat lainnya. 

    Menurut Helmy, kegiatan ini sejalan dengan keinginan Bupati yang ingin menjadikan Kabupaten Bojonegoro sebagai salah satu kabupaten ramah disabilitas. Makanya persiapannya luar biasa mulai dari koordinasi dengan panitia dan pihak terkait.

  • Kesehatan
    03 April 2019 | Sumber:
    Briefing & perkenalan dengan peserta Tulibuta di RUKI Jakarta
    Baca Lanjut

    Belajar bersama dengan orang tua yang memiliki anak Tuli dari Keluarga Bisindo serta Deafblind (buta tuli) dari Gerkatin Pusat

  • Kegiatan
    24 February 2019 | Sumber:
    Dirgahayu GERKATIN ke 38 di ACE, Jakarta
    Baca Lanjut

    DIRGAHAYU GERKATIN KE 38 tahun. Semoga GERKATIN bisa lebih baik ke depannya Aamiin

  • Kegiatan
    19 February 2019 | Sumber: https://sumut.idntimes.com/news/sumut/masdalena-napitupulu-1/pentas-seni-dengan-teman-tuli-ajang-menyalurkan-bakat-dan-karya/1
    Pentas Seni bersama teman Tuli Medan
    Baca Lanjut

    Kabag Sosial dan Pendidikan (Sospen) Khoiruddin Rangkuti mewakili Wali Kota Medan T Dzulmi Eldin, yang berhalangan hadir dalam acara tersebut. Acara Pentas Seni bersama Teman Tuli Medan berlangsung di Komplek Megapark, Jalan Kapten Muslim, Minggu (17/2).

    Khoiruddin menyampaikan kegiatan yang digelar Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Sumut ini diharapkan dapat menambah motivasi teman tunarungu dalam menyalurkan bakat mereka.

    "Event ini merupakan wadah bagi teman tunarungu dalam berkreasi di bidang seni. Untuk itu diharapkan kegiatan ini rutin digelar sehingga teman tunarungu dapat menyalurkan bakat mereka. Selain itu juga dapat menambah motivasi bagi mereka", katanya.

    Khoiruddin berharap kedepannya para relawan dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Medan agar teman tunarungu ini diberi fasilitas sehingga dapat berkumpul dan menggelar kegiatan yang positif lainnya.

    Tak hanya itu, dalam acara tersebut hadir juga Ketua Gerkatin Sumut, Ayub Purba, Pembina Gerkatin dari USU, Rudiansyah, dan Ketua Panitia yang juga merupakan dari teman tunarungu, Elisabeth serta para peserta Pentas Seni.

  • Kegiatan
    04 March 2018 | Sumber:
    Dirgahayu GERKATIN ke 37 & Pusbisindo ke 9
    Baca Lanjut

    Dalam Rangka Memperingati Dwi Dirgahayu GERKATIN ke 37 & Pusbisindo ke 9 di Kemendikbud Jakarta, tema mencari Jati Diri berhasil mengisi acara teater bersama Pengurus Gerkatin Bidang Kepemudaan tentang Komedi Musikal. Selamat Ulang Tahun Gerkatin dan Pusbisindo semakin jaya dan kokoh yang abadi 🙂

  • Kegiatan
    25 September 2017 | Sumber: https://www.solider.id/baca/3786-rakernas-ke3-gerkatin-tetapkan-hari-tuli-nasional
    Rakernas ke-3 Gerkatin tetapkan Hari Tuli Nasional
    Baca Lanjut

    Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerkatin yang digelar selama 3 hari (21-23 September 2017) di Hotel Lotus Garden Kediri menghadirkan peserta dari berbagai daerah baik tingkat Propinsi (DPD) dan tingkat Kabupaten /Kota (DPC). Rakernas tahun ini adalah yang ketiga kali mengangkat tema “Konsolidasi Organisasi Gerkatin dalam rangka meningkatkan kapasitas dan memperkuat jaringan organisasi”

    Hal yang menarik dari acara Rakernas Gerkatin adalah munculnya ide penetapan Hari Tuli Nasional yang ditetapkan setiap tanggal 11 Januari . Asal mula 11 Januari itu adalah adanya kesadaran dan  kebangkitan dari seorang Tuli bernama Aek Natas Siregar yang sekarang sudah almahrum atas pengalaman dirinya yang belum mendapatkan kesetaraan dengan yang lainnya terutama dalam hal pendidikan. Belum ada sekolah yang mau menerima Tuli menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tidak putus asa dengan penolakan tersebut, Siregar didampingi temannya, Mumuk Wiraadmaja berangkat menemui Bapak Presiden Republik Indonesia yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Presiden Soekarno. Tanggal 1 Februari 1961, mereka diterima oleh Bapak Presiden di ruang tamu Istana Negara RI. Mereka menyampaikan maksud kedatangannya dan Bapak Soekarno melalui tulisan tangannya pada secarik kertas menyampaikan bahwa beliau memberikan dukungan dan perhatian untuk kaum Tuli agar dapat maju. 

    Berdasarkan situasi ini almahrum Aek Natas Siregar bersama kawan-kawan Tuli bersepakat membentuk organisasi yaitu Serikat Kaum Tuli Bisu Indonesia disingkat SEKATUBI di Bandung pada tanggal 11 Januari 1961. Dengan bersatu, yakin bahwa akan banyak hal yang dapat dilakukan. Harapan dari organisasi Tuli adalah kaum Tuli bisa bernasib lebih baik dari dirinya. 

  • Kegiatan
    22 September 2017 | Sumber: https://www.kedirikota.go.id/p/berita/1018637/rakernas-gerkatin-ke-3-dihadiri-ning-lik
    Rakernas Gerkatin ke - 3
    Baca Lanjut

    Wakil Walikota Kediri Lilik Muhibbah menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerkatin ke-3 di Hotel Lotus Garden, Jumat (22/9). Rakernas ini diikuti 17 DPD Gerkatin di Seluruh Indonesia. Rakernas ini berlangsung selama empat hari yakni mulai tanggal 21 - 24 September.

    Dalam kesempatan ini, Lilik Muhibbah yang akrab disapa Ning Lik mengatakan para anggota Gerkatin ini adalah orang hebat yang tidak mampu membenani orang lain. "Anggota Gerkatin ini orang hebat yang mandiri. Seperti Ketua Gerkatin Jawa Timur Yuyun yang telah menyemangati penyandang disabilitas lainnya di Kota Kediri," ujarnya.

    Ning Lik juga menjelaskan bahwa Gerkatin di Kota Kediri ini juga telah bersinergi dengan Pemerintah Kota Kediri. Bahkan beberapa penyadang disabilitas diberikan modal usaha untuk ikut mewarnai perekonomian di Kota Kediri.

TOP
Informasi &
Pengaduan
Donasi